Pada tahun 2022, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara menembus angka sekitar 27 persen—sebuah capaian yang tidak hanya impresif, tetapi juga menegaskan adanya arah pembangunan yang terstruktur dan berbasis pada kekuatan sektor unggulan.
Fondasi dari capaian tersebut tak dapat dilepaskan dari kepemimpinan almarhum Abdul Gani Kasuba. Di tengah keterbatasan fiskal dan kebijakan refocusing anggaran saat pandemi, ia mampu menjaga arah pembangunan tetap konsisten, sekaligus membuka ruang bagi ekspansi ekonomi berbasis sumber daya dan investasi.
Pengamat ekonomi Mukhtar Adam menilai bahwa lonjakan tersebut bukanlah fenomena sesaat, melainkan hasil dari desain kebijakan yang matang dan berorientasi jangka panjang.
“Pertumbuhan tinggi itu tidak lahir dari ruang kosong. Ada fondasi kebijakan yang kuat dan keberanian mengambil keputusan strategis,” ujarnya.
Memasuki tahun 2026, tren positif itu tidak mengalami koreksi signifikan. Di bawah kepemimpinan Sherly Djoanda, kesinambungan pembangunan tetap terjaga. Stabilitas ekonomi daerah mampu dipertahankan, bahkan tetap berada di atas rata-rata nasional.
Kondisi ini memperlihatkan satu hal penting: keberhasilan ekonomi daerah bukan hanya ditentukan oleh capaian sesaat, tetapi oleh kesinambungan arah kebijakan. Fondasi yang kuat, ketika dijaga dengan konsistensi, akan menghasilkan stabilitas yang berkelanjutan.
Maluku Utara hari ini menjadi contoh bahwa perpaduan antara warisan kebijakan yang solid dan kepemimpinan yang menjaga kontinuitas mampu melahirkan pertumbuhan yang bukan hanya tinggi, tetapi juga berdaya tahan.
Di tengah dinamika nasional, Maluku Utara tampil sebagai salah satu episentrum pertumbuhan baru—dengan pesan yang jelas: ekonomi yang kuat selalu dibangun, bukan kebetulan.
Redaksi: Iswan
.png)
Komentar