Perbincangan hangat yang terjadi antara dua budayawan sekaligus spiritualis asal Kota Angin, Ki Sutomo Sastro Kusumo dan Ki Kuswanto KLA, baru-baru ini membuka kembali lembaran sejarah asal-usul desa Ngringin. Di tengah suasana akrab, keduanya memperdebatkan satu hal mendasar: siapa sosok yang pertama kali membabat alas atau membuka wilayah desa tersebut? Perbedaan pandangan mengenai nama danyang atau penjaga wilayah ini bukan sekadar perdebatan biasa, melainkan cerminan bagaimana sejarah, budaya, dan pengaruh zaman saling bertautan dalam ingatan kolektif masyarakat.
Ki Kuswanto memaparkan pendapatnya bahwa sosok yang dianggap sebagai pembuka wilayah itu dikenal dengan sebutan "Mbah Solaiman". Nama ini, menurutnya, telah lama tercatat dalam cerita turun-temurun yang ia telusuri. Namun, pendapat ini langsung disanggah tegas oleh Ki Sutomo Sastro Kusumo. Baginya, sebutan yang lebih tepat dan selaras dengan akar peradaban setempat adalah "Mbah Dalang". Dasar penolakan Ki Sutomo bukan tanpa alasan, melainkan dibangun di atas pemahaman mendalam mengenai perkembangan budaya dan jejak sejarah yang tertinggal di wilayah Nganjuk.
Inti perbedaan pendapat ini terletak pada asal-usul nama dan kapan pengaruh budaya tertentu masuk ke tanah Jawa. Ki Sutomo menegaskan bahwa nama seperti Solaiman atau Sulaiman merupakan serapan dari budaya Arab. Secara sejarah, nama-nama bernuansa Islami mulai dikenal di Nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, dibawa oleh pedagang dan musafir Muslim itupun masih di pesisir Utara Sumatra. Penggunaannya semakin meluas seiring penyebaran agama Islam, terutama pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi di masa Walisongo, dan mencapai gelombang besar pada abad ke-18 melalui kedatangan bangsa Arab dari Hadramaut. Hal ini berarti nama tersebut baru populer jauh setelah masa kejayaan Kerajaan Singasari dan Majapahit, atau tepatnya setelah runtuhnya kerajaan besar terakhir yang beraliran Hindu-Buddha itu.
Sebagai bukti yang lebih kuat, Ki Sutomo merujuk pada jejak kesenian yang masih hidup hingga kini. Tradisi Tayub, yang kerap dipentaskan saat bersih desa atau sedekah bumi, diketahui sudah mengakar sejak zaman Kerajaan Singasari (abad ke-13) dan berkembang pesat di era Majapahit. Begitu pula dengan unsur pewayangan, di mana istilah "Dalang" sangat lekat sebagai pemimpin pertunjukan yang juga memegang peran spiritual. Sementara itu, Wayang Krucil,kesenian khas Jawa Timur,baru lahir pada akhir masa Majapahit atau masa peralihan ke Kerajaan Demak (abad ke-15 hingga ke-16). Fakta ini menunjukkan bahwa identitas budaya lokal sudah terbentuk kokoh jauh sebelum nama-nama dari luar masuk dan diadopsi oleh masyarakat.
Perdebatan ini menjadi contoh nyata bagaimana sejarah suatu masyarakat dapat direkonstruksi melalui apa yang dikenal dalam ilmu sejarah dan antropologi sebagai pendekatan etnohistori. Dalam pandangan ini, kebudayaan, adat istiadat, cerita rakyat, hingga kesenian menjadi jejak penting masa lalu. Bahasa, mitos, sistem kepercayaan, hingga bentuk kesenian menyimpan kode tentang bagaimana nenek moyang hidup, berinteraksi, dan mewariskan nilai. Ritual seperti Tayub misalnya, bukan sekadar hiburan, melainkan sisa-sisa kepercayaan lama yang memuja kesuburan dan alam, bercampur dengan nilai yang berkembang di kemudian hari.
Kedua pendapat ini sama-sama berharga. Pendapat Ki Kuswanto menunjukkan bagaimana proses akulturasi budaya terjadi—di mana unsur asing masuk, diterima, dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat seiring berjalannya waktu. Sementara pendapat Ki Sutomo menjadi penanda penting untuk tidak melupakan akar asli peradaban yang tumbuh dan berkembang lebih dahulu di tanah ini.
Pada akhirnya, perbincangan di antara dua budayawan Nganjuk ini mengajarkan kita satu hal penting: sejarah bukanlah sekadar daftar nama atau tahun. Sejarah adalah cerita hidup yang terus ditulis ulang melalui tradisi, ingatan, dan dialog antargenerasi. Baik Mbah Dalang maupun Mbah Solaiman, keduanya adalah bagian dari perjalanan panjang desa Ngringin. Salah satu mewakili jiwa asli tanah Jawa, yang lain mewakili gelombang peradaban yang datang dan menetap. Keduanya bersatu membentuk identitas yang kita kenal dan lestarikan hingga hari ini.(*)