BINJAI — DetikREPUBLIK.com | Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H jangan sampai hanya menjadi agenda seremonial yang selesai setelah tausiah dan lantunan shalawat. Momentum kelahiran Rasulullah SAW harus mampu menggugah kesadaran setiap orang untuk melakukan koreksi terhadap diri, memperbaiki akhlak, serta berani menempatkan kebenaran dan keadilan di atas kepentingan pribadi.
Pesan tajam tersebut disampaikan Praktisi Hukum Ahmad Zulfikar, S.H., M.H. Menurutnya, keteladanan Nabi Muhammad SAW justru harus terlihat dalam perilaku nyata, terutama bagi mereka yang memiliki ilmu, jabatan, kewenangan maupun tanggung jawab terhadap masyarakat.
“Maulid Nabi bukan sekadar memperingati sebuah hari besar. Ini momentum untuk bercermin. Sudahkah akhlak, kejujuran, kesabaran dan kasih sayang Rasulullah SAW benar-benar kita hadirkan dalam kehidupan?” tegas Ahmad Zulfikar.
Ia menilai, persoalan kehidupan bermasyarakat tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan aturan hukum. Sebab, hukum membutuhkan integritas orang yang menjalankannya. Ketika hukum kehilangan moral dan keadilan kehilangan hati nurani, maka aturan berisiko hanya menjadi teks tanpa roh.
“Hukum menuntun kita kepada keadilan, akhlak menuntun kita kepada kemuliaan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa keduanya tidak boleh dipertentangkan, tetapi harus berjalan beriringan,” ujarnya.
Jangan Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas
Ahmad Zulfikar menekankan bahwa nilai keteladanan Rasulullah SAW semakin penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam membangun budaya hukum yang berkeadilan.
Menurutnya, hukum harus ditegakkan secara objektif, transparan dan tidak boleh tunduk pada tekanan kepentingan, kekuasaan maupun kedekatan.
“Keadilan tidak boleh mengenal siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Jangan sampai hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Jika hukum ditegakkan, tegakkan dengan hati nurani dan integritas. Jika kesalahan terbukti, jangan dilindungi hanya karena pelakunya memiliki kekuasaan atau kedudukan,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat Maulid Nabi seharusnya menjadi pengingat bagi siapa pun yang memegang kewenangan agar tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
“Kekuasaan adalah amanah, ilmu adalah amanah, jabatan adalah amanah. Semuanya akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, jangan hanya takut kepada aturan manusia, tetapi milikilah rasa takut kepada Allah SWT ketika menjalankan amanah tersebut,” katanya.
Keadilan Harus Berpihak kepada Kebenaran
Lebih lanjut, Ahmad Zulfikar menyebut keadilan bukan sekadar persoalan mengetahui pasal dan peraturan. Keadilan membutuhkan keberanian moral untuk mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.
“Keadilan bukan hanya tentang mengetahui aturan, tetapi juga menjaga hati, menjunjung kebenaran, menghormati sesama dan menggunakan ilmu untuk memberikan manfaat. Jangan sampai ilmu hukum justru digunakan untuk mencari celah membenarkan ketidakbenaran,” ujarnya.
Ia berharap Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H mampu menjadi momentum perubahan karakter, bukan sekadar perubahan ucapan.
Sebab, menurutnya, ukuran seseorang mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dari seberapa sering ia mengucapkan shalawat, tetapi juga dari sejauh mana ia berusaha meneladani kejujuran, amanah, keadilan, kesabaran dan kasih sayang Rasulullah SAW.
“Jangan berhenti pada seremoni. Jadikan Maulid sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Kalau kita ingin masyarakat yang adil, mulailah dari diri sendiri. Kalau kita ingin hukum dihormati, mulai dengan menghormati hukum. Kalau kita ingin diperlakukan dengan baik, perlakukan orang lain dengan akhlak yang baik,” pungkasnya.
Ahmad Zulfikar pun mengajak seluruh masyarakat menjadikan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat iman, memperbaiki akhlak, menjaga persaudaraan dan menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
“Hukum, keadilan dan akhlak harus bertemu. Di sanalah keteladanan Rasulullah SAW menjadi relevan sepanjang zaman,” tutupnya.
Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, dan semoga kita mampu menjadi pribadi yang lebih baik, lebih jujur, lebih adil dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Reporter: Zulkarnain Idrus
.png)
Komentar