Tiga Mahasiswa Untika!Gelar Mimbar Bebas di Tugu Adipura Luwuk, Soroti Isu Tanjung Sari.!! -->

Iklan Semua Halaman

PASANG IKLAN ANDA DISINI, HUBUNGI ADMIN

Tiga Mahasiswa Untika!Gelar Mimbar Bebas di Tugu Adipura Luwuk, Soroti Isu Tanjung Sari.!!

Admin Detik
Thursday, 9 July 2026
Tiga mahasiswa Universitas Tompotika Luwuk (Untika) menggelar aksi mimbar bebas di kawasan Tugu Adipura, Kota Luwuk/dok/DetikRepublik.com/Muflihun


Luwuk, Sulawesi Tengah — Tiga mahasiswa Universitas Tompotika Luwuk (Untika) menggelar aksi mimbar bebas di kawasan Tugu Adipura, Kota Luwuk, pada sore hari. Aksi yang dimulai pukul 15.45 WITA itu berlangsung di tengah aktivitas lalu lintas yang cukup padat, menarik perhatian masyarakat yang melintas di pusat kota tersebut.

Dengan hanya bermodalkan keberanian dan semangat menyuarakan aspirasi, ketiga mahasiswa ini secara bergantian menyampaikan orasi terbuka terkait berbagai persoalan yang terjadi di wilayah Tanjung Sari. Mereka menyoroti dugaan propaganda serta kondisi masyarakat yang dinilai terus mengalami tekanan dan eksploitasi tanpa perhatian serius dari pihak terkait.

Koordinator lapangan (Korlap) aksi, Haykal, dalam orasinya menegaskan bahwa mimbar bebas ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap nasib masyarakat Tanjung. Ia menyebut bahwa realitas di lapangan tidak boleh ditutup-tutupi dengan narasi yang menyesatkan publik.
“Apa yang terjadi di Tanjung hari ini bukan sekadar isu biasa. Ada kepentingan, ada propaganda, dan yang paling dirugikan adalah masyarakat kecil,” tegas Haykal di hadapan pengguna jalan dan warga yang mulai berkumpul menyaksikan aksi tersebut.

Aksi yang awalnya berlangsung damai itu sempat memanas ketika para mahasiswa melakukan aksi bakar ban di lokasi sebagai simbol perlawanan terhadap kondisi yang mereka kritik. Asap hitam dari ban yang terbakar sempat mengepul di sekitar Tugu Adipura, menciptakan suasana tegang sekaligus dramatis di tengah kota.

Tak berselang lama, aparat kepolisian datang ke lokasi untuk mengamankan situasi. Petugas kemudian menyiram ban yang terbakar menggunakan air guna mencegah gangguan lebih lanjut terhadap ketertiban umum. Meski demikian, ketiga mahasiswa tetap melanjutkan aksi mimbar bebas mereka tanpa mundur.
Di tengah intervensi aparat dan arus lalu lintas yang terus berjalan, para mahasiswa tetap menyuarakan tuntutan mereka. Mereka menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar bentuk protes, melainkan panggilan moral untuk membuka mata publik terhadap kondisi yang dianggap tidak adil.

Aksi mimbar bebas tersebut berakhir sekitar pukul 17.20 WITA. Meski berlangsung dengan skala kecil, kehadiran tiga mahasiswa ini menunjukkan bahwa ruang demokrasi masih hidup, bahkan dari suara-suara minoritas yang berani berdiri di tengah keramaian.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa isu Tanjung Sari belum selesai, dan masih menyisakan pertanyaan besar tentang keadilan, transparansi, serta keberpihakan terhadap masyarakat yang terdampak. Di tengah keterbatasan, suara mahasiswa kembali menjadi alarm bagi publik dan pemangku kebijakan untuk tidak menutup mata terhadap realitas yang terjadi di lapangan.