GUNUNG TUA — DetikREPUBLIK.com | Janji pemerintah tentang pembangunan dan ketahanan pangan kembali diuji oleh kenyataan di lapangan.
Di Lingkungan I (LK I) Pasar Gunung Tua, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), para petani justru harus berjuang sendiri menghadapi jaringan irigasi yang disebut telah rusak selama bertahun-tahun.
Saluran irigasi yang semestinya menjadi urat nadi persawahan kini dalam kondisi memprihatinkan. Talud di sejumlah titik mengalami longsor, sementara saluran primer dipenuhi lumpur dan eceng gondok.
Akibatnya, air yang seharusnya mengalir menuju persawahan tidak mampu menjalankan fungsinya secara optimal.
Dampaknya pun nyata: petani gagal tanam, sawah mengering, dan penghasilan masyarakat ikut terancam.
Yang lebih miris, persoalan itu disebut warga telah berlangsung sekitar tiga tahun.
“Sudah tiga tahun begini, Pak. Setiap mau tanam pasti gagal karena tidak ada air. Kami sudah lapor ke mana-mana, tapi tidak ada yang datang,” ujar Wr Siregar, warga LK I, Sabtu (6/9/2026).
PETANI YANG BAYAR, PETANI YANG PERBAIKI
Di tengah kerusakan infrastruktur tersebut, para petani tidak tinggal diam.
Mereka patungan.
Uang Rp50 ribu hingga Rp100 ribu dikumpulkan dari sesama petani untuk membeli semen, membayar tenaga kerja hingga menyewa alat berat untuk menangani bagian saluran yang rusak.
Dengan kata lain, ketika fasilitas pertanian yang vital mengalami kerusakan, masyarakat yang justru dipaksa menjadi penyelamat terakhir.
“Kami patungan Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per orang. Kumpul seadanya untuk beli semen dan menambal yang jebol. Tapi itu tidak cukup. Kerusakannya sudah terlalu besar untuk tenaga dan uang kami,” ungkap warga.
Pertanyaannya kemudian menjadi semakin keras:
Jika petani sudah membayar sendiri untuk memperbaiki irigasi, lalu untuk apa ada pemerintah, dinas teknis, program pembangunan, serta anggaran pemeliharaan infrastruktur?
Pertanyaan itu semakin relevan karena Pemkab Padang Lawas Utara secara resmi memasukkan “Jalan Mulus, Rumah Layak, dan Irigasi Mengalir” sebagai salah satu program prioritas daerah.
Bahkan dokumen perencanaan pemerintah daerah memuat program rehabilitasi jaringan irigasi permukaan serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.
Lantas, mengapa petani LK I masih harus patungan untuk mengatasi kerusakan yang mereka sebut telah berlangsung bertahun-tahun?
JANJI “IRIGASI MENGALIR” VS REALITAS SAWAH MENGERING
Ironi tersebut semakin mencolok.
Di tingkat kebijakan, pemerintah menyatakan penguatan infrastruktur irigasi merupakan bagian penting dalam menjaga produksi pangan menghadapi musim kemarau 2026. Bupati Paluta bahkan menyatakan fokus pada penguatan infrastruktur irigasi dan pendampingan petani.
Namun di LK I Pasar Gunung Tua, menurut kesaksian warga, persoalan dasar justru belum terselesaikan.
Petani membutuhkan air, tetapi yang datang justru kewajiban untuk patungan.
Petani membutuhkan saluran yang layak, tetapi yang mereka hadapi adalah lumpur, eceng gondok dan talud yang rusak.
Jika kondisi tersebut benar berlangsung selama tiga tahun, maka persoalannya bukan lagi sekadar kerusakan irigasi.
Ini sudah menyangkut seberapa serius pemerintah menjalankan fungsi pelayanan publik kepada masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian.
AKTIVIS: SWADAYA PETANI BUKAN ALIBI PEMERINTAH
Pemerhati lingkungan sekaligus aktivis pergerakan, Shandy Pratama Siregar, menilai kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
Menurutnya, semangat gotong royong masyarakat tidak seharusnya dijadikan pembenaran bagi pemerintah untuk mengurangi perhatian terhadap infrastruktur publik.
“Ini sudah keterlaluan. Negara dan pemerintah daerah punya kewajiban menyediakan serta memelihara infrastruktur irigasi. Tetapi faktanya petani di LK I dipaksa memperbaiki sendiri dengan uang patungan. Swadaya itu bagus, tetapi tidak bisa menggantikan tanggung jawab pemerintah,” tegas Shandy.
Ia mendesak Pemkab Paluta melalui Dinas PUPR dan Dinas Pertanian, serta instansi pemerintah provinsi sesuai kewenangannya, segera turun langsung ke lokasi.
Bukan sekadar datang mengambil dokumentasi.
Bukan sekadar melakukan pendataan.
Tetapi memperbaiki.
“Jangan sampai karena irigasi rusak, sawah produktif beralih fungsi. Ini soal ketahanan pangan kita. Petani sudah berkorban swadaya, sekarang giliran negara hadir,” ujarnya.
PETANI SUDAH LELAH PATUNGAN
Warga LK I, Oloan Harahap, juga meminta pemerintah memberikan kepastian.
Menurutnya, petani tidak menuntut sesuatu yang berlebihan.
Mereka hanya ingin saluran air kembali berfungsi.
“Kami tidak minta muluk-muluk, hanya minta air bisa mengalir lagi ke sawah seperti sediakala. Kami capek patungan terus. Tolong perbaiki irigasi kami, Pak Bupati. Jangan biarkan kami menderita,” pintanya.
Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana dari keresahan petani.
Mereka tidak meminta proyek mewah.
Mereka tidak meminta fasilitas istimewa.
Mereka hanya meminta air untuk sawah yang menjadi sumber kehidupan keluarganya.
Jika air tidak mengalir, sawah tidak produktif.
Jika sawah tidak produktif, petani kehilangan penghasilan.
Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, maka dampaknya bukan hanya dirasakan petani, tetapi dapat merembet pada ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan daerah.
PEMDA PALUTA DITANTANG BUKTIKAN PROGRAM “IRIGASI MENGALIR”
Kini bola berada di tangan Pemerintah Kabupaten Padang Lawas Utara.
Program “Jalan Mulus, Rumah Layak, dan Irigasi Mengalir” sudah tertulis dalam dokumen prioritas pemerintah.
Persoalannya tinggal satu:
Apakah program itu benar-benar mengalir sampai ke sawah petani, atau hanya berhenti sebagai kalimat indah di atas kertas perencanaan?
Petani LK I Pasar Gunung Tua sudah bertahun-tahun menunggu.
Mereka bahkan telah mengeluarkan uang sendiri untuk bertahan.
Kini masyarakat menunggu tindakan pemerintah.
Jangan sampai petani terus diminta berswadaya, sementara anggaran dan kewenangan berada di tangan pemerintah.
Sebab, kalau petani sudah gagal tanam berulang kali karena irigasi rusak, maka yang perlu dipertanyakan bukan lagi kesabaran petani.
Yang patut dipertanyakan adalah ke mana negara ketika petani membutuhkan air.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait belum memberikan tanggapan resmi terkait kondisi jaringan irigasi LK I Pasar Gunung Tua maupun langkah konkret yang akan dilakukan.
Reporter: Mhd. Zulfahri Tanjung & Red
Editor: Zulkarnain Idrus
.png)
Komentar


