Dari Hulu ke Hilir Pulau Taliabu: Suara Desa, Kopra, Cengkeh hingga Arang, Ekonomi Petani Harus Diperkuat hingga Gudang Luwuk Banggai.!! -->

Iklan Semua Halaman

PASANG IKLAN ANDA DISINI, HUBUNGI ADMIN

Dari Hulu ke Hilir Pulau Taliabu: Suara Desa, Kopra, Cengkeh hingga Arang, Ekonomi Petani Harus Diperkuat hingga Gudang Luwuk Banggai.!!

Admin Redaksi
Thursday, 17 September 2026
detikRepublik.cim,TIMUR Taliabu — Sebuah tulisan bernada reflektif dari seorang anak muda asal desa terpencil di kawasan Timur Indonesia menyuarakan kegelisahan sekaligus pandangan mengenai mata rantai ekonomi masyarakat, mulai dari petani di desa hingga buruh, sopir, pemilik gudang, pabrik, pelaku ekspor, bahkan negara.

Tulisan tersebut menggambarkan bagaimana komoditas seperti kopra, cengkeh, arang dan berbagai hasil bumi lainnya tidak sekadar menjadi barang dagangan. Di balik setiap muatan, terdapat banyak orang yang menggantungkan kehidupan dan kebutuhan keluarganya.

“Dari hulu ke hilir,” menjadi gambaran utama dalam tulisan tersebut. Penulis mengajak melihat lebih jauh siapa saja yang sebenarnya bergantung pada perputaran barang dan aktivitas ekonomi tersebut.

Mulai dari petani di desa-desa kecil yang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pedagang yang menyediakan telur, mi dan kebutuhan rumah tangga, peternak ayam, buruh gudang, anak buah kapal (ABK), pekerja bongkar muat, pemilik truk hingga sopir yang harus menafkahi keluarga.

Rantai tersebut, menurut refleksi penulis, kemudian berlanjut kepada gudang-gudang penampungan, pabrik yang membutuhkan bahan baku, hingga kebutuhan ekspor terhadap komoditas tertentu.

Bahkan, aktivitas perdagangan tersebut pada akhirnya berkaitan dengan penerimaan negara melalui pajak dan berbagai aktivitas ekonomi yang menopang program pembangunan serta pelayanan publik.

Karena itu, penulis meminta agar persoalan yang sedang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik, terbuka, dan tidak dilakukan secara diam-diam.

Ia menegaskan keinginannya agar apa yang sudah dimulai dan dijanjikan dapat diselesaikan terlebih dahulu sebelum dirinya memilih untuk kembali menjalani kehidupan sederhana di tanah kelahirannya.

“Bikin itu barang, baru beta pulang di tanah kelahiran,” demikian salah satu pesan yang disampaikan dalam tulisan tersebut.

Ekonomi Desa dan Mereka yang Menggantungkan Hidup

Tulisan itu juga membawa pembaca untuk melihat ekonomi dari sudut pandang masyarakat kecil.

Di tengah pembicaraan mengenai komoditas dan perdagangan, penulis mempertanyakan nasib mereka yang berada di lapisan paling bawah dalam rantai ekonomi.

Apakah petani yang membutuhkan penghasilan untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan? Apakah buruh gudang yang membutuhkan pekerjaan? Apakah sopir dan pemilik kendaraan yang memiliki keluarga untuk dinafkahi? Ataukah pekerja bongkar muat yang mengandalkan setiap muatan untuk memperoleh penghasilan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari refleksi sang penulis.

Baginya, sebuah aktivitas ekonomi tidak berdiri sendiri. Ada banyak tangan yang bekerja dan banyak keluarga yang menggantungkan hidup dari satu mata rantai perdagangan.

Karena itu, persoalan ekonomi seharusnya tidak hanya dilihat dari siapa yang mendapatkan keuntungan, tetapi juga dari bagaimana dampaknya terhadap masyarakat kecil yang berada di sepanjang rantai tersebut.

Penulis menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin terlalu pusing memikirkan kekayaan. Jika pada akhirnya kehidupan membawanya kembali ke desa, ia mengaku siap menjalani hidup sederhana dengan bertani, menanam kasbi, mencari ikan di laut, serta menikmati apa yang tersedia dari tanah kelahirannya.

Bagi penulis, kekayaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Jika Tuhan memberikan rezeki, maka rezeki tersebut harus disyukuri. Jika kehidupan mengharuskan seseorang menjalani kesederhanaan, maka kesederhanaan juga harus diterima dengan rasa syukur.

“Intinya bersyukur dan usaha pakai otak,” menjadi pesan filosofis yang tergambar dari tulisan tersebut. Pandangan itu menunjukkan bahwa perjuangan mencari kehidupan yang lebih baik tetap harus berjalan beriringan dengan kesadaran untuk menerima apa yang telah dimiliki.

Tulisan tersebut kemudian membawa pembaca pada persoalan yang lebih luas, yakni tentang kebebasan dan kemerdekaan.Penulis menyebut dirinya sebagai seorang anak muda dari desa terpencil yang merasa memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya.

Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan semangat kemerdekaan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, khususnya gagasan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa.

Dalam perspektif penulis, kebebasan bukan hanya persoalan politik atau negara, tetapi juga menyangkut hak manusia untuk menentukan masa depan, bekerja, hidup, dan memilih jalan hidup tanpa tekanan yang tidak semestinya.

Tulisan tersebut juga menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai inspirasi utama dalam kehidupan penulis.

Bagi penulis, Nabi Muhammad SAW merupakan figur yang memberikan teladan mengenai kehidupan, keadilan, penghormatan terhadap manusia, serta perjuangan membangun masyarakat. Ia bahkan menghubungkan gagasan tersebut dengan sejarah penghapusan praktik perbudakan dan perlindungan terhadap martabat manusia dalam tradisi Islam.

Namun, gagasan tersebut tetap menjadi refleksi personal sang penulis, bukan klaim akademik yang berdiri sendiri. Pada akhirnya, tulisan tersebut bukan sekadar cerita mengenai barang, perdagangan atau persoalan ekonomi.

Di dalamnya terdapat suara seorang anak desa yang mencoba melihat persoalan dari berbagai sisi—dari petani, buruh, sopir, pedagang, pemilik gudang, pekerja bongkar muat, pabrik, pelaku ekspor hingga negara.

Pesan yang hendak disampaikan cukup sederhana: setiap barang yang bergerak dari desa menuju pasar membawa cerita tentang kehidupan banyak orang.

Di balik kopra, cengkeh, arang dan komoditas lainnya, terdapat keringat petani. Di balik kapal yang mengangkut muatan, ada ABK dan buruh bongkar muat. Di balik kendaraan pengangkut, ada sopir yang membawa pulang nafkah untuk keluarganya.

Dan di balik aktivitas ekonomi tersebut, ada masyarakat yang berharap kehidupannya terus berjalan.

Tulisan itu kemudian ditutup dengan gaya seorang penyair dari Timur Indonesia—menggabungkan kegelisahan, keberanian, humor, dan renungan kehidupan.

Ia menyebut dirinya sebagai “penyair ala Timur Tengah”, seorang anak muda dari desa terpencil yang memilih untuk tetap memegang prinsip hidup, rasa syukur dan keyakinannya.

Pada akhirnya, pesan tersebut kembali kepada satu hal: manusia boleh berusaha mengejar kehidupan yang lebih baik, tetapi tetap harus tahu bagaimana bersyukur atas apa yang dimiliki.

“Kalau Tuhan takdirkan saya tetap bersyukur dengan apa yang saya punya, saya harus bersyukur. Itu intinya.”

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

— Penyair dari Timur Indonesia, ala Abu Nawas/Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakimi.

Penulis : Yus
Editor    Muflihun La Guna