Foto: Saat Warga Dowora Mencari Mata Air. Halmahera Selatan, Detikrepublik.com – Peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Oktober 2026 menjadi kekhawatiran serius bagi masyarakat Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Bagi sebagian masyarakat, peringatan tersebut mungkin hanya menjadi imbauan untuk mengantisipasi kekeringan. Namun bagi warga Desa Dowora, ancaman kemarau berkepanjangan merupakan persoalan yang jauh lebih serius karena hingga saat ini mereka masih menghadapi keterbatasan sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk air untuk dikonsumsi.
"Kondisi tersebut membuat masyarakat Dowora semakin cemas. Jika musim kemarau benar-benar bertahan hingga Oktober, warga khawatir sumber air yang selama ini menjadi tumpuan akan semakin berkurang, sementara air yang tersedia pun dinilai tidak layak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi," ujar warga pada awak media Selasa, (11/8/26)
Krisis air bukan persoalan baru bagi masyarakat Dowora.
Persoalan tersebut sebelumnya telah disuarakan masyarakat kepada pemerintah daerah, termasuk kepada Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba. Namun, hingga kini masyarakat mengaku belum mendapatkan solusi konkret yang mampu menjawab kebutuhan mendasar mereka terhadap akses air bersih.
Masyarakat menyatakan kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana nasib masyarakat Dowora jika kemarau panjang benar-benar berlangsung hingga Oktober, sementara kebutuhan air bersih saja belum terpenuhi?
Bagi warga, air bukan sekadar kebutuhan tambahan. Air merupakan kebutuhan dasar untuk minum, memasak, mandi, mencuci, hingga menjaga kesehatan keluarga," kata warga.
81 Tahun Indonesia Merdeka, Mengapa Air Bersih Masih Sulit?
Indonesia pada 2026 telah memasuki 81 tahun kemerdekaan. Sementara Kabupaten Halmahera Selatan juga telah berusia 23 tahun.
Namun, di tengah perjalanan panjang tersebut, masyarakat Desa Dowora masih harus berhadapan dengan persoalan yang seharusnya menjadi kebutuhan paling mendasar: air bersih.
Ironisnya, persoalan ini terjadi ketika pemerintah terus berbicara tentang pembangunan, kesejahteraan masyarakat, dan pemerataan pembangunan hingga ke pelosok.
Pertanyaan yang kemudian patut diajukan adalah:
Apakah masyarakat di pelosok seperti Desa Dowora harus menunggu bertahun-tahun lagi hanya untuk mendapatkan akses air yang layak dikonsumsi?
Masyarakat tidak sedang meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya membutuhkan air bersih untuk mempertahankan kehidupan.
Kemarau Hingga Oktober, Kekhawatiran Warga Semakin Serius
Pernyataan BMKG mengenai kemungkinan kemarau yang berlangsung hingga Oktober 2026 kini telah sampai ke masyarakat. Bagi warga Dowora, informasi tersebut justru menjadi alarm serius.
Sebab, persoalan yang mereka hadapi bukan sekadar kekurangan air akibat kemarau. Persediaan air yang layak dikonsumsi memang sejak awal sudah menjadi persoalan.
Jika kondisi tersebut dibiarkan tanpa intervensi pemerintah, maka kemarau berkepanjangan berpotensi memperburuk keadaan masyarakat.
Warga pun berharap pemerintah daerah tidak menunggu sampai kondisi semakin parah baru kemudian mengambil tindakan.
Jangan sampai masyarakat harus menunggu benar-benar kehabisan air baru pemerintah bergerak.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dinilai perlu segera turun langsung melihat kondisi masyarakat Desa Dowora dan mengambil langkah konkret, baik melalui penyediaan air bersih darurat maupun solusi jangka panjang berupa pembangunan infrastruktur sumber dan distribusi air yang layak.
Sebab, kemarau boleh berlangsung hingga Oktober, tetapi penderitaan masyarakat tidak boleh dibiarkan berlangsung tanpa batas.
Kini masyarakat Dowora menunggu satu hal sederhana dari pemerintah: bukan janji, melainkan air bersih yang benar-benar sampai ke rumah mereka.
Reporter: ul

Komentar